Manajemen Organisasi
Manajemen Organisasi:
Formal-Humanis dengan Pendekatan "Love"
Pengertian Sederhana Manajemen
Manajemen
berasal dari bahasa Prancis kuna ménagement, yang memiliki arti seni
melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat diartikan sebagai
ilmu dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang
dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Efektif
artinya tujuan dapat dicapai dalam waktu yang singkat sedangkan efisien
dapat diartikan pencapaian tujuan dengan biaya yang rendah. Jadi efektif
mengacu pada lamanya waktu untuk mencapai tujuan dan efisien mengacu
pada biaya yang dikeluarkan lebih sedikit.
Manajemen Sebagai Ilmu dan Seni
Ilmu
manajemen merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang disistemisasi,
dikumpulkan dan diterima kebenarannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya
metode ilmiah yang dapat digunakan dalam setiap penyelesaian masalah
dalam manajemen. Metode ilmiah pada hakikatnya meliputi urutan kegiatan
sebagai berikut:
1. Mengetahui adanya persoalan.
2. Mendefinisikan persoalan.
3. Mengumpulkan fakta, data dan informasi.
4. Menyusun alternatif penyelesaian.
5. Mengambil keputusan dengan memilih salah satu alternatif penyelesaian.
6. Melaksanakan keputusan serta tindak lanjut.
Selain
manajemen sebagai ilmu, manajemen juga dianggap sebagai seni. Hal ini
disebabkan oleh kepemiminan memerlukan kharisma, stabilitas emosi,
kewibawaan, kejujuran, kemampuan menjalin hubungan antaramanusia yang
semuanya itu banyak ditentukan oleh bakat seseorang dan “kadang” tidak
dapat dipelajari.
Prinsip dan Fungsi Manajemen Organisasi
A. Prinsip Manajemen Organisasi
Organisasi
adalah: kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian di dalam perkumpulan
dan sebagainya untuk tujuan tertentu. Atau kelompok kerja sama antara
orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.
Prinsip
dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan fundamental atau kebenaran
umum yang merupakan sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Dalam
hubungannya dengan manajemen prinsip-prinsip bersifat fleksibel dalam
arti bahwa perlu di pertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus
dan situasi-sitauasi yang berubah. Prinsip-prinsip umum manajemen (general principle of management) dalam organisasi terdiri dari:
1. Pembagian kerja (Division of work)
Pembagian
kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga
pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan
pengurus harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike. Dengan adanya prinsip the right man in the right place
akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi
kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan
kerja. kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik
dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh
karena itu, seorang pemimpin yang berpengalaman akan menempatkan
pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi
prinsip-prinsip lainnya.
2. Wewenang dan tanggung jawab (Authority and responsibility)
Setiap pengurus dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan dan setiap
wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban. Wewenang dan tanggung
jawab harus seimbang. Setiap pekerjaan harus dapat memberikan
pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang. Oleh karena itu, makin
kecil wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula
sebaliknya. Tanggung jawab terbesar terletak pada pimpinan puncak.
Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada pengurus, tetapi terletak pada
pucuk pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah
pimpinan puncak. oleh karena itu, apabila pimpinan puncak tidak
mempunyai keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya
merupakan bumerang.
3. Disiplin (Discipline)
Disiplin
merupakan perasaan taat dan patuh terhadap pekerjaan yang menjadi
tanggung jawab. Disiplin ini berhubungan erat dengan wewenang. Apabila
wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka disiplin akan hilang.
Oleh karena ini, pemegang wewenang harus dapat menanamkan disiplin
terhadap dirinya sendiri sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap
pekerjaan sesuai dengan wewenang yang ada padanya.
4. Kesatuan perintah (Unity of command)
Dalam
melakasanakan pekerjaan, pengurus harus memperhatikan prinsip kesatuan
perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik.
pengurus harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesui dengan
wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari pimpinan lain
kepada serorang pengurus akan merusak jalannya wewenang dan tanggung
jawab serta pembagian kerja.
5. Kesatuan pengarahan (Unity of direction)
Dalam
melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, pengurus perlu
diarahkan menuju sasarannya. Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan
pembagian kerja. Kesatuan pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan
perintah. Dalam pelaksanaan kerja bisa saja terjadi adanya dua perintah
sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur
yang jelas dari mana pengurus mendapat wewenang untuk melaksanakan
pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan
tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan
pengarahan (unity of direction) tidak dapat terlepas dari pembagian kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.
6. Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri
Setiap
pengurus harus mengabdikan kepentingan sendiri kepada kepentingan
organisasi. Hal semacam itu merupakan suatu syarat yang sangat penting
agar setiap kegiatan berjalan dengan lancar sehingga tujuan dapat
tercapai dengan baik. Setiap pengurus dapat mengabdikan kepentingan
pribadi kepada kepentingan organisasi, apabila memiliki kesadaran bahwa
kepentingan pribadi sebenarnya tergantung kepada berhasil-tidaknya
kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan pribadi kepada
kepentingan organisasi dapat terwujud, apabila setiap pengurus merasa
senang dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.
7. Pemusatan (Centralization)
Pemusatan
wewenang akan menimbulkan pemusatan tanggung jawab dalam suatu
kegiatan. Tanggung jawab terakhir terletak ada orang yang memegang
wewenang tertinggi atau pimpinan puncak. Pemusatan bukan berarti adanya
kekuasaan untuk menggunakan wewenang, melainkan untuk menghindari
kesimpangsiurang wewenang dan tanggung jawab. Pemusatan wewenang ini
juga tidak menghilangkan asas pelimpahan wewenang (delegation of authority)
8. Hirarki (tingkatan)
Pembagian
kerja menimbulkan adanya atasan dan bawahan. Bila pembagian kerja ini
mencakup area yang cukup luas akan menimbulkan hirarki. Hirarki diukur
dari wewenang terbesar yang berada pada pimpinan puncak dan seterusnya
berurutan ke bawah. dengan adanya hirarki ini, maka setiap pengurus akan
mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab dan dari siapa ia
mendapat perintah.
9. Ketertiban (Order)
Ketertiban
dalam melaksanakan pekerjaan merupakan syarat utama karena pada
dasarnya tidak ada orang yang bisa bekerja dalam keadaan kacau atau
tegang. Ketertiban dalam suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh
pengurus, baik atasan maupun bawahan mempunyai disiplin yang tinggi.
Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat dibutuhkan dalam
mencapai tujuan.
10. Keadilan dan kejujuran
Keadilan
dan kejujuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang
telah ditentukan. Keadilan dan kejujuran terkait dengan moral pengurus
dan tidak dapat dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan
mulai dari atasan karena atasan memiliki wewenang yang paling besar.
Pemimpin yang adil dan jujur akan menggunakan wewenangnya dengan
sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan kejujuran pada bawahannya.
11. Stabilitas kondisi Pengurus
Dalam
setiap kegiatan kestabilan pengurus harus dijaga sebaik-baiknya agar
segala pekerjaan berjalan dengan lancar. Kestabilan pengurus terwujud
karena adanya disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam
kegiatan. Manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya memiliki
keinginan, perasaan dan pikiran. Apabila keinginannya tidak terpenuhi,
perasaan tertekan dan pikiran yang kacau akan menimbulkan goncangan
dalam bekerja.
12. Prakarsa (Inisiative)
Prakarsa
timbul dari dalam diri seseorang yang menggunakan daya pikir. Prakarsa
menimbulkan kehendak untuk mewujudkan suatu yang berguna bagi
penyelesaian pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Jadi dalam prakarsa
terhimpun kehendak, perasaan, pikiran, keahlian dan pengalaman
seseorang. Oleh karena itu, setiap prakarsa yang datang dari pengurus
harus dihargai. Prakarsa (inisiatif) mengandung arti menghargai orang
lain, karena itu hakikatnya manusia butuh penghargaan. Setiap penolakan
terhadap prakarsa pengurus merupakan salah satu langkah untuk menolak
gairah kerja. Oleh karena itu, seorang manajer yang bijak akan menerima
dengan senang hari prakarsa-prakarsa yang dilahirkan pengurusnya.
Semangat kesatuan, semangat korp Setiap pengurus harus memiliki rasa
kesatuan, yaitu rasa senasib sepenanggyungan sehingga menimbulkan
semangat kerja sama yang baik. semangat kesatuan akan lahir apabila
setiap karyawan mempunyai kesadaran bahwa setiap pengurus berarti bagi
pengurus lain dan pengurus lain sangat dibutuhkan oleh dirinya. Manajer
yang memiliki kepemimpinan akan mampu melahirkan semangat kesatuan (esprit de corp), sedangkan manajer yang suka memaksa dengan cara-cara yang kasar akan melahirkan friction de corp (perpecahan dalam korp) dan membawa bencana.
B. Fungsi Manajemen Organisasi
Setidaknya ada empat hal yang merupakan fungsi pokok dalam manajemen organisasi, yakni planning, organizing, actuating, dan controlling. Fungsi-fungsi pokok ini harus dilakukan dengan melibatkan organ-organ dalam organisasi.
1. Planning
Planning/perencanaan adalah hal utama yang harus dilakukan dalam manajemen. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang "begin from the end".
Kita tetapkan tujuan bersama yang ingin dicapai. Tujuan adalah pelita
yang menunjukkan jalan bahkan di kegelapan malam. Tetapkan visi dan misi
organisasi. Yang penting adalah penetapan tujuan, visi, dan misi
organisasi ini harus dilakukan bersama-sama. Minimal tidak dilakukan
sendirian. Memang pada umumnya sebuah organisasi didirikan dengan
seorang/beberapa tokoh kunci sebagai pemberi konsep. Tetapi konsep itu
mutlak harus diketahui oleh tiap orang dalam organisasi agar terdapat
kesamaan persepsi. Konseptor tidak mungkin berjalan sendirian dalam
perjalanan organisasi. Jangan ragu dalam menetapkan tujuan, visi, dan
misi.
2. Pengorganisian (Organizing)
Pengorganisasian
atau organizing berarti menciptakan suatu struktur dengan bagian-bagian
yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan antarbagian-bagian
satu sama lain dipengaruhi oleh mereka dengan keseluruhan struktur
tersebut. Pengorganisasian bertujuan membagi suatu kegiatan besar
menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Selain itu, mempermudah
manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan
untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut.
3. Actuating
Actuating/pelaksanaan
adalah roh dari organisasi. Hanya omong kosong jika perencanaan tidak
diikuti dengan aksi yang sesuai. Implementasi adalah sama pentingnya
dengan perencanaan. Tanpa pelaksanaan yang baik rencana akan hancur
berantakan tanpa sempat mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu adanya
pendelegasian yang tepat untuk suatu tugas
tertentu. Serahkanlah suatu hal pada ahlinya. Jika ditangani ahlinya
tentu suatu persoalan akan selesai lebih cepat dan hasilnya pun baik.
Untuk menunjuk orang yang tepat di tempat yang tepat perlu adanya
komunikasi terus menerus antara anggota
organisasi. Dengan adanya komunikasi dan silaturahmi, kompetensi
seseorang seringkali akan dapat diketahui. Selain itu komunikasi sangat
penting dilakukan antara planner dan actuator.
Komunikasi penting untuk menyelaraskan antara keinginan perencana
dengan pelaksana. Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat
mengganggu jalannya organisasi Rencana bisa berubah di tengah jalan jika
ternyata pada pelaksanaannya terdapat situasi yang mendesak. Oleh
karena itu pelaksanaan haruslah bersifat fleksibel tanpa keluar dari
jalur tujuan yang hendak dicapai. Orang mengatakan ‘banyak jalan menuju
ke Roma’. Begitupun dengan action
(pelaksanaan), ia harus bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Bukan mengalir dengan arus bukan pula melawan arus tetapi berusaha
membelokkan arus perlahan-lahan ke arah yang kita kehendaki.
4. Controlling
Controlling
adalah kunci dalam manajemen. Walaupun pendelegasian adalah hal yang
mutlak dalam organisasi, tetapi pendelegasian bukanlah berarti
menyerahkan segala urusan tanpa kendali. Seorang yang buta niscaya akan
dapat berjalan dengan normal jika diberitahu jalan yang harus
dilewatinya. Begitupun orang-orang dalam organisasi, seburuk-buruknya
sistem manajemen jika ada kontrol dan umpan balik yang rutin dilakukan
maka hasilnya masih dapat diterima. Haruslah ada sistem reward and punishment
dalam manajemen organisasi. Orang yang berprestasi patut diberi
penghargaan dan sebaliknya orang yang melakukan kesalahan sebaiknya
diingatkan untuk tidak mengulangi kesalahannya. Ini penting sebab sistem
ini akan memacu orang-orang dalam organisasi untuk mengeluarkan
kemampuan terbaiknya karena merasa dihargai. Hargai prestasi sekecil
apapun dan jangan biarkan kesalahan sekecil apapun. Segala sesuatu yang
besar dimulai dari yang kecil. Kita harus tegas dalam hal ini. Ini semua
dilakukan agar pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Tidak melenceng dari sasaran apalagi menetapkan sasaran
seenaknya.
Pendekatan "Love" dalam Berorganisasi (Loving approach)
Organisasi
sebetulnya mirip suatu makhluk hidup. Mengapa? Karena organisasi adalah
kumpulan manusia. Manusia yang bersatu untuk mencapai tujuan. Oleh
karena itu kita tidak bisa memandang organisasi sebagai benda mati yang
bisa diperlakukan seenaknya. Diperlukan suatu perawatan khusus agar
organisasi tetap hidup dan berkembang. Berangkat dari pemikiran itu,
prinsip-prinsip manajemen organisasi sesungguhnya adalah manajemen
orang-orang didalamnya. SDM merupakan faktor paling penting dalam
keberlangsungan hidup organisasi. Manusia adalah pendiri, perancang,
pekerja, pengamat, pengkritik, pemutus suatu organisasi. Tanpa mereka
tidak ada organisasi. Oleh karena itu konsep manajemen organisasi ideal
haruslah berpusat pada manusia.












0 komentar:
Posting Komentar